Selasa, 05 Maret 2013

Pelanggaran Kode Etik

. Selasa, 05 Maret 2013
0 komentar

Komite Etik akan memeriksa kelima unsur pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengusut dugaan pelanggaran kode etik terkait bocornya draf surat perintah penyidikan (sprindik) atas nama Anas Urbaningrum.

"Semua unsur pimpinan akan dimintai keterangan satu per satu," kata Ketua Komite Etik Anies Baswedan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (5/3/2013).

Anies mengatakan, Komite Etik telah membuat jadwal pemeriksaan dan rencana kerja ke depan. Pemeriksaan oleh Komite Etik akan dimulai pada Rabu besok.

Pihak-pihak yang dianggap relevan dan berkaitan dengan kebocoran draf sprindik ini, katanya, akan dimintai keterangan sesuai dengan jadwal.

"Ada banyak pihak yang akan kita undang untuk diperiksa," tambahnya. Menurut Anies, Komite Etik telah mendapatkan gambaran awal permasalahan terkait dengan bocornya draf sprindik tersebut.

Gambaran tersebut, menurut Anies, diperoleh dari pengumpulan data sementara, termasuk hasil investigasi tim internal yang sudah dilakukan KPK sebelum ini.

Komite Etik dibentuk setelah KPK menggelar rapat pimpinan yang menerima hasil penelusuran tim investigasi yang dibentuk Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK. Hasil investigasi tim menyimpulkan kalau draf sprindik atas nama Anas yang bocor itu merupakan dokumen asli keluaran KPK.

Tim investigasi pun merekomendasikan kepada pimpinan KPK untuk membentuk Komite Etik. Adapun Komite Etik ini beranggotakan pihak esternal dan internal KPK.

Selain Anies, mereka yang menjadi anggota Komite Etik adalah mantan pimpinan KPK Tumpak Hatongaran Panggabean, mantan hakim Mahkamah Konstitusi Abdul Mukti Fadjar, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, dan penasihat KPK Abdullah Hehamahua.

Sebelumnya Anies mengatakan, Komite Etik akan melaporkan ke Kepolisian jika menemukan unsur pidana terkait dengan bocornya draf sprindik Anas. Kendati demikian, kata Anies, terlalu dini jika membicarakan masalah sanksi.

"Karena sekarang kita saja belum bisa menentukan apakah salah atau tidak orang-orang yang bersangkutan, itu dulu," ujarnya.

Adapun kebocoran draf sprindik Anas ini diduga melibatkan unsur pimpinan KPK. Draf sprindik ini tersebar melalui media sebelum KPK menetapkan secara resmi Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus Hambalang.

Baca juga: Iconia PC tablet dengan Windows 8 by Kanghari.

Klik disini untuk melanjutkan »»